Sukmawati, Dian. 2008. Tradisi Tama Lamong dalam
Upacara Khitan pada
Masyarakat Bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa Kabupaten
Sumbawa. Skripsi Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Irawan, M. Hum, dan (II) Drs. Nur Hadi, M. Pd, M. Si.
Masyarakat Bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa Kabupaten
Sumbawa. Skripsi Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Irawan, M. Hum, dan (II) Drs. Nur Hadi, M. Pd, M. Si.
Tradisi Tama Lamong adalah tradisi yang hanya dilakukan oleh seorang wanita yang akan memasuki usia remaja. Tama Lamong dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat karena tradisi ini masih dianggap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tersebut. Perkembangan dalam kehidupan suatu masyarakat pasti akan mengalami perubahan-perubahan termasuk dalam
pelaksanaan tradisi Tama Lamong dari bentuk sebelumnya sehingga diperlukan adanya suatu pelestarian dari generasi penerusnya. Agar lebih mengenal tradisi
Tama Lamong ini maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan dokumentasi berupa kajian ilmiah mengenai keberadaan tradisi tersebut.
Penelitian ini berusaha menjawab beberapa masalah yang meliputi:
1) Bagaimana
asal mula tradisi Tama Lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan
Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
2) Bagaimanakah perubahan-perubahan yang terjadi pada tradisi Tama Lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
2) Bagaimanakah perubahan-perubahan yang terjadi pada tradisi Tama Lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
3) Apakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan dalam tradisi Tama Lamong pada upacara khitan pada masyarakat
bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
4) Bagaimanakah kelangsungan tradisi Tama Lamong pada kehidupan masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
4) Bagaimanakah kelangsungan tradisi Tama Lamong pada kehidupan masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
5) Bagimanakah makna pendidikan dari tradisi Tama
Lamong pada generasi muda di Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa. Sesuai dengan
rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan
dan menganalisis perubahan yang terjadi dalam tradisi Tama Lamong, serta
mendeskripsikan dan
menganalisis kelangsungan dan makna pendidikan dalam tradisi Tama Lamong di tengah-tengah kehidupan masyarakat Kecamatan Sumbawa.
menganalisis kelangsungan dan makna pendidikan dalam tradisi Tama Lamong di tengah-tengah kehidupan masyarakat Kecamatan Sumbawa.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dan termasuk dalam jenis penelitian
deskriptif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data
yang digunakan adalah analisis interaktif yang telah dilakukan sejak di lapangan.
Hasil dari analisis interaktif kemudian direduksi untuk diperoleh gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan. Selain analisis interaktif digunakan juga
komparasi data dengan tujuan membandingkan kasus Tama Lamong yang satu
dengan kasus Tama Lamong yang lainnya sehingga ditemukan perubahan dalam
tradisi tersebut. Terakhir data diinterpretasi dengan teori perubahan kebudayaan.
Dari sini dapat disimpulkan tentang perubahan yang terkandung dalam tradisi
Tama Lamong sehingga tradisi ini tetap dipertahankan. Dalam penelitian ini
pengecekan keabsahan data temuan dilakukan dengan menggunakan teknik
triangulasi, dan teknik ketekunan pengamatan.
Penelitian ini memperoleh hasil yaitu: 1) Asal mula tradisi Tama
Lamong adalah bermula dari kebiasaan menggunakan lamong pene bagi seorang
wanita Sumbawa khususnya di Kecamatan Sumbawa yang akan memasuki usia
remaja. Wanita yang melaksanakan tradisi Tama Lamong haruslah dari golongan
bangsawan dan tau sanak (golongan merdeka). Guna menghindari malapetaka
yang dapat menimpa individu yang bersangkutan maka dilaksanakanlah tradisi
Tama Lamong. Hal ini dapat dilihat dalam prosesi Tama Lamong yang dalam
tahapannya seperti barodak dan maning suci berguna untuk menolak bala berupa
penyakit seperti kesikal (kesurupan) yang dapat menimpa wanita tersebut. 2)
Dalam perkembangannya tradisi ini mulai mengalami perubahan yang disebabkan
oleh adanya perubahan ide pada masyarakat bangsawan Samawa yang mulai
menitikberatkan pada pola fikir praktis ekonomis. Namun perubahan yang terjadi
dalam Tama Lamong hanya terlihat pada permukaannya atau kulitnya saja,
sedangkan makna dan tujuan dari upacara ini masih tetap dipertahankan, artinya
masih ada masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi ini karena menganggap
tradisi ini masih diperlukan dan berguna dalam kelangsungan hidup masyarakat
tersebut. 3) Adapun beberapa faktor yang mendorong perubahan dalam
pelaksanaan upacara Tama Lamong antara lain, faktor ekonomi yang
menyebabkan tradisi ini mulai disederhanakan dengan menggabungkannya dalam
upacara-upacara lain terutama dalam upacara khitan. Selain itu kemajuan
teknologi juga membawa perubahan dalam peralatan yang digunakan dalam
upacara Tama Lamong yang tidak lagi menggunakan peralatan tradisional
melainkan telah diganti dengan peralatan modern. Hal ini dikarenakan pola fikir
masyarakat Sumbawa yang lebih mementingkan kepraktisan dari peralatan
tersebut. faktor pendidikan dan agama dalam hal ini Agama Islam juga membawa
dampak perubahan sehingga tradisi ini mulai jarang dilakukan oleh masyarakat
pendukungnya. 4) Tradisi Tama Lamong yang mulai jarang dilakukan
menyebabkan masyarakat Sumbawa mulai mengenal adanya tradisi rebuya
(mencari) agar dilaksanakan upacara Tama Lamong. 5) Wanita yang telah
melakukan upacara Tama Lamong maka memiliki kewajiban untuk menjaga
harkat dan martabatnya sebagai wanita dengan selalu mengikuti segala adat
istiadat dalam masyarakatnya. Adat istiadat ini dapat dipelajari dengan
mengikutsertakan wanita tersebut dalam berbagai upacara adat seperti menjadi ina
odak (orang yang mengurus segala keperluan upacara) dan ina saneng
(pendamping kedua mempelai) dalam upacara perkawinan. Tradisi Tama Lamong
mulai mengalami kepunahan, oleh sebab itulah diharapkan kepada pemerintah
setempat dan budayawan Sumbawa untuk lebih memperhatikan keberadaan
upacara Tama Lamong. Perhatian ini dapat berupa motivasi, atau fasilitas upacara
agar masyarakat tetap melaksanakan upacara Tama Lamong seperti yang
dilakukan oleh nenek moyangnya, sehingga generasi muda khususnya yang
berada di Kecamatan Sumbawa tetap mengenal dan mengetahui keberadaan
tradisi Tama Lamong.
yang digunakan adalah analisis interaktif yang telah dilakukan sejak di lapangan.
Hasil dari analisis interaktif kemudian direduksi untuk diperoleh gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan. Selain analisis interaktif digunakan juga
komparasi data dengan tujuan membandingkan kasus Tama Lamong yang satu
dengan kasus Tama Lamong yang lainnya sehingga ditemukan perubahan dalam
tradisi tersebut. Terakhir data diinterpretasi dengan teori perubahan kebudayaan.
Dari sini dapat disimpulkan tentang perubahan yang terkandung dalam tradisi
Tama Lamong sehingga tradisi ini tetap dipertahankan. Dalam penelitian ini
pengecekan keabsahan data temuan dilakukan dengan menggunakan teknik
triangulasi, dan teknik ketekunan pengamatan.
Penelitian ini memperoleh hasil yaitu: 1) Asal mula tradisi Tama
Lamong adalah bermula dari kebiasaan menggunakan lamong pene bagi seorang
wanita Sumbawa khususnya di Kecamatan Sumbawa yang akan memasuki usia
remaja. Wanita yang melaksanakan tradisi Tama Lamong haruslah dari golongan
bangsawan dan tau sanak (golongan merdeka). Guna menghindari malapetaka
yang dapat menimpa individu yang bersangkutan maka dilaksanakanlah tradisi
Tama Lamong. Hal ini dapat dilihat dalam prosesi Tama Lamong yang dalam
tahapannya seperti barodak dan maning suci berguna untuk menolak bala berupa
penyakit seperti kesikal (kesurupan) yang dapat menimpa wanita tersebut. 2)
Dalam perkembangannya tradisi ini mulai mengalami perubahan yang disebabkan
oleh adanya perubahan ide pada masyarakat bangsawan Samawa yang mulai
menitikberatkan pada pola fikir praktis ekonomis. Namun perubahan yang terjadi
dalam Tama Lamong hanya terlihat pada permukaannya atau kulitnya saja,
sedangkan makna dan tujuan dari upacara ini masih tetap dipertahankan, artinya
masih ada masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi ini karena menganggap
tradisi ini masih diperlukan dan berguna dalam kelangsungan hidup masyarakat
tersebut. 3) Adapun beberapa faktor yang mendorong perubahan dalam
pelaksanaan upacara Tama Lamong antara lain, faktor ekonomi yang
menyebabkan tradisi ini mulai disederhanakan dengan menggabungkannya dalam
upacara-upacara lain terutama dalam upacara khitan. Selain itu kemajuan
teknologi juga membawa perubahan dalam peralatan yang digunakan dalam
upacara Tama Lamong yang tidak lagi menggunakan peralatan tradisional
melainkan telah diganti dengan peralatan modern. Hal ini dikarenakan pola fikir
masyarakat Sumbawa yang lebih mementingkan kepraktisan dari peralatan
tersebut. faktor pendidikan dan agama dalam hal ini Agama Islam juga membawa
dampak perubahan sehingga tradisi ini mulai jarang dilakukan oleh masyarakat
pendukungnya. 4) Tradisi Tama Lamong yang mulai jarang dilakukan
menyebabkan masyarakat Sumbawa mulai mengenal adanya tradisi rebuya
(mencari) agar dilaksanakan upacara Tama Lamong. 5) Wanita yang telah
melakukan upacara Tama Lamong maka memiliki kewajiban untuk menjaga
harkat dan martabatnya sebagai wanita dengan selalu mengikuti segala adat
istiadat dalam masyarakatnya. Adat istiadat ini dapat dipelajari dengan
mengikutsertakan wanita tersebut dalam berbagai upacara adat seperti menjadi ina
odak (orang yang mengurus segala keperluan upacara) dan ina saneng
(pendamping kedua mempelai) dalam upacara perkawinan. Tradisi Tama Lamong
mulai mengalami kepunahan, oleh sebab itulah diharapkan kepada pemerintah
setempat dan budayawan Sumbawa untuk lebih memperhatikan keberadaan
upacara Tama Lamong. Perhatian ini dapat berupa motivasi, atau fasilitas upacara
agar masyarakat tetap melaksanakan upacara Tama Lamong seperti yang
dilakukan oleh nenek moyangnya, sehingga generasi muda khususnya yang
berada di Kecamatan Sumbawa tetap mengenal dan mengetahui keberadaan
tradisi Tama Lamong.

0 komentar:
Posting Komentar