Selasa, 07 Februari 2012

tama lamong


Sukmawati, Dian. 2008. Tradisi Tama Lamong dalam Upacara Khitan pada
Masyarakat Bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa Kabupaten
Sumbawa. Skripsi Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri  Malang. Pembimbing: (I) Drs. Irawan, M. Hum, dan (II) Drs. Nur Hadi, M. Pd, M. Si.


Tradisi Tama Lamong adalah tradisi yang hanya dilakukan oleh seorang wanita yang akan memasuki usia remaja. Tama Lamong dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat karena tradisi ini masih dianggap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tersebut. Perkembangan dalam kehidupan suatu masyarakat pasti akan mengalami perubahan-perubahan termasuk dalam
pelaksanaan tradisi Tama Lamong dari bentuk sebelumnya sehingga diperlukan adanya suatu pelestarian dari generasi penerusnya. Agar lebih mengenal tradisi
       Tama Lamong ini maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan dokumentasi berupa kajian ilmiah mengenai keberadaan tradisi tersebut.
       Penelitian ini berusaha menjawab beberapa masalah yang meliputi:
 1) Bagaimana asal mula tradisi Tama Lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
2) Bagaimanakah perubahan-perubahan yang terjadi pada tradisi Tama Lamong dalam upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
3) Apakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam tradisi Tama Lamong pada upacara khitan pada masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
4) Bagaimanakah kelangsungan tradisi Tama Lamong pada kehidupan masyarakat bangsawan Samawa di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa,
5) Bagimanakah makna pendidikan dari tradisi Tama Lamong pada generasi muda di Kecamatan Sumbawa Kabupaten Sumbawa. Sesuai dengan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis perubahan yang terjadi dalam tradisi Tama Lamong, serta mendeskripsikan dan
menganalisis kelangsungan dan makna pendidikan dalam tradisi Tama Lamong di tengah-tengah kehidupan masyarakat Kecamatan Sumbawa.
     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data
yang digunakan adalah analisis interaktif yang telah dilakukan sejak di lapangan.
    Hasil dari analisis interaktif kemudian direduksi untuk diperoleh gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan. Selain analisis interaktif digunakan juga

komparasi data dengan tujuan membandingkan kasus Tama Lamong yang satu

dengan kasus Tama Lamong yang lainnya sehingga ditemukan perubahan dalam

tradisi tersebut. Terakhir data diinterpretasi dengan teori perubahan kebudayaan.

Dari sini dapat disimpulkan tentang perubahan yang terkandung dalam tradisi

Tama Lamong sehingga tradisi ini tetap dipertahankan. Dalam penelitian ini

pengecekan keabsahan data temuan dilakukan dengan menggunakan teknik

triangulasi, dan teknik ketekunan pengamatan.











Penelitian ini memperoleh hasil yaitu: 1) Asal mula tradisi Tama

Lamong adalah bermula dari kebiasaan menggunakan lamong pene bagi seorang

wanita Sumbawa khususnya di Kecamatan Sumbawa yang akan memasuki usia

remaja. Wanita yang melaksanakan tradisi Tama Lamong haruslah dari golongan

bangsawan dan tau sanak (golongan merdeka). Guna menghindari malapetaka

yang dapat menimpa individu yang bersangkutan maka dilaksanakanlah tradisi

Tama Lamong. Hal ini dapat dilihat dalam prosesi Tama Lamong yang dalam

tahapannya seperti barodak dan maning suci berguna untuk menolak bala berupa

penyakit seperti kesikal (kesurupan) yang dapat menimpa wanita tersebut. 2)

Dalam perkembangannya tradisi ini mulai mengalami perubahan yang disebabkan

oleh adanya perubahan ide pada masyarakat bangsawan Samawa yang mulai

menitikberatkan pada pola fikir praktis ekonomis. Namun perubahan yang terjadi

dalam Tama Lamong hanya terlihat pada permukaannya atau kulitnya saja,

sedangkan makna dan tujuan dari upacara ini masih tetap dipertahankan, artinya

masih ada masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi ini karena menganggap

tradisi ini masih diperlukan dan berguna dalam kelangsungan hidup masyarakat

tersebut. 3) Adapun beberapa faktor yang mendorong perubahan dalam

pelaksanaan upacara Tama Lamong antara lain, faktor ekonomi yang

menyebabkan tradisi ini mulai disederhanakan dengan menggabungkannya dalam

upacara-upacara lain terutama dalam upacara khitan. Selain itu kemajuan

teknologi juga membawa perubahan dalam peralatan yang digunakan dalam

upacara Tama Lamong yang tidak lagi menggunakan peralatan tradisional

melainkan telah diganti dengan peralatan modern. Hal ini dikarenakan pola fikir

masyarakat Sumbawa yang lebih mementingkan kepraktisan dari peralatan

tersebut. faktor pendidikan dan agama dalam hal ini Agama Islam juga membawa

dampak perubahan sehingga tradisi ini mulai jarang dilakukan oleh masyarakat

pendukungnya. 4) Tradisi Tama Lamong yang mulai jarang dilakukan

menyebabkan masyarakat Sumbawa mulai mengenal adanya tradisi rebuya

(mencari) agar dilaksanakan upacara Tama Lamong. 5) Wanita yang telah

melakukan upacara Tama Lamong maka memiliki kewajiban untuk menjaga

harkat dan martabatnya sebagai wanita dengan selalu mengikuti segala adat

istiadat dalam masyarakatnya. Adat istiadat ini dapat dipelajari dengan

mengikutsertakan wanita tersebut dalam berbagai upacara adat seperti menjadi ina

odak (orang yang mengurus segala keperluan upacara) dan ina saneng

(pendamping kedua mempelai) dalam upacara perkawinan. Tradisi Tama Lamong

mulai mengalami kepunahan, oleh sebab itulah diharapkan kepada pemerintah

setempat dan budayawan Sumbawa untuk lebih memperhatikan keberadaan

upacara Tama Lamong. Perhatian ini dapat berupa motivasi, atau fasilitas upacara

agar masyarakat tetap melaksanakan upacara Tama Lamong seperti yang

dilakukan oleh nenek moyangnya, sehingga generasi muda khususnya yang

berada di Kecamatan Sumbawa tetap mengenal dan mengetahui keberadaan

tradisi Tama Lamong.

0 komentar:

Posting Komentar